Harapan Terhadap Sektor Transportasi Setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal)


LRT Jakarta  | sumber : dokumentasi pribadi

Covid-19 virus yang nyatanya sangat tidak bisa diremehkan. Bagaimana tidak sebagian besar negara-negara di dunia terjangkit virus ini. Mengutip dari www.worldometers.info jumlah kasus Covid-19 di seluruh dunia mencapai total 7.444.538 hingga Rabu (10/6/2020). Selain lonjakan jumlah korban jiwa dan pasien terjangkit yang membuat pihak medis kuwalahan, ternyata lonjakan ini juga membuat ketakutan dan kepanikan diseluruh pihak dan aspek kehidupan.

Penularan virus yang begitu massif dan cepat antar manusia dan antar negara di dunia yang merubah keadaan kehidupan memasuki kondisi pandemi yang membuat penanganan virus ini tak hanya berada di pihak medis melainkan sudah mengharuskan dalam kendali pemerintah di masing-masing negara.

Upaya yang pertama dilakukan untuk menekan penyebaran virus ini adalah dengan melakukan pembatasan gerak dan kontak antar manusia. Dampak pemberlakuan pembatasan ini adalah terjadi pembatasan bahkan penutupan di berbagai fasilitas umum serta area yang melibatkan kerumunan orang seperti sekolah, kantor, rumah ibadah, kantor pelayanan public, pasar, mall, tempat wisata, restaurant, stasiun, terminal, bandara bahkan seluruh jaringan transportasi.

Pembatasan yang dilakukan dengan disiplin tersebut ternyata memperoleh hasil yang signifikan dalam menekan lonjakan jumlah penderita dan penyebaran virus Covid-19 di beberapa negara tetangga, sehingga beberapa negara yang awalnya bersastus zona merah (dengan jumlah kasus Covid-19 tinggi) dapat berubah dalam status zona oranye, zona kuning bahkan zona hijau (tidak ada kasus baru).

Melihat keberhasilan beberapa negara tetangga dalam menekan penyebaran dan jumlah kasus Covid-19 ini akhirnya pemerintah Indonesia pun gencar memberlakukan pembatasan social berskala besar (PSBB) diseluruh wilayah negara ini bahkan sanksi pun diberikan kepada pihak-pihak yang terbukti melanggar ataupun tidak menjalankan PSBB ini.

pengertian masa transisi | sumber : Kama Digital


Perubahan pola hidup bertransportasi umum yang terjadi saat Pandemi Covid-19

Sebagai bidang yang memfasilitasi pergerakan dan mobilisasi manusia, transportasi menjadi bidang yang diatur sangat ketat guna menekan penyebaran Covid-19 ini. Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Perhubungan telah memberlakukan Permenhub no 18/2020 sejak 9 April 2020.

kondisi di dalam transportasi umum sebelum pandemi Covid-19 | sumber : dokumentasi pribadi

Ketika PSBB mulai diberlakukan transportasi pun mengalami beberapa penyesuaian guna membatasi pergerakan manusia terutama di di kota besar maupun antar kota ditambah pandemi ini terjadi berbarengan dengan puasa Ramadhan dan Idul Fitri dimana adanya tradisi mudik.

suasana Terminal Bus Terpadu Pulogebang saat menjelang Idul Fitri 2020 | sumber : dokumentasi pribadi

Untuk mencegah penyebaran virus Covid-19 ke berbagai daerah di Indonesia pemerintah melakukan pelarangan mudik dengan melarang transportasi umum maupun kendaraan pribadi melakukan perjalanan lintas daerah khususnya dari kota Jakarta menuju daerah lain ataupun sebaliknya. Sedangkan untuk transportasi di dalam kota seperti Jakarta penyesuaian terjadi pada jadwal, durasi dan jumlah kapasitas angkut dan menonaktifkan sementara beberapa transportasi.

bus Transjakarta yang terparkir di pool akibat pemberlakukan PSBB Jakarta | sumber : dokumentasi pribadi


Pada saat seperti ini terlihat jelas perubahan pola bertransportasi umum bagi masyarakat. Perubahan drastis terlihat dari sedikitnya jumlah bus, commuter line, LRT dan MRT karena pembatasan durasi dan jam operasional menjadi pukul 06.00 hingga pukul 18.00 saja. Pada saat ini pun jasa ojek online dilarang mengangkut penumpang hanya diperbolehkan mengantar barang maupun makanan saja. Kapasitas angkut pun mengalami penurunan yang sangat berarti akibat pembatasan ini. Perubahan juga terlihat pada penambahan fasilitas, marka dan instruksi yang mengatur jarak serta aturan sejak memasuki halte, stasiun ataupun terminal hingga kedalam rangkaian.

Menggunakan masker adalah wajib bagi seluruh pengguna transportasi umum. Mulai memasuki halte, stasiun ataupun terminal kita akan diperiksa suhu badan terlebih dahulu menggunakan alat pengukur suhu tubuh sebagai syarat untuk memasuki atau menggunakan transportasi umum. Batas suhu tubuh yang diizinkan adalah tidak boleh lebih dari 37,3 º Celcius kemudian di area tunggu kendaraan sudah terdapat marka pengatur jarak antre. Begitu pun di dalam armada jumlah kapasitas angkut berkurang menjadi hanya 20% dari total kapasitas sebenarnya. Pengaturan jarak duduk serta berdiri dilakukan dengan memasang marka sticker “tanda silang”.

kondisi stasiun & marka yang dipasang di transportasi umum (atas : MRT, bawah : Commuterline) 
sumber : dokumentasi pribadi 


Penyesuaian pola hidup bertransportasi umum selama masa Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal).

Setelah hampir tiga bulan pemberlakuan PSBB sejak awal bulan Maret 2020 dan melihat perkembangan jumlah kasus Covid-19 pemerintah mulai melakukan uji coba pelonggaran pada masa PSBB karena mempertimbangkan aspek kehidupan lain yang harus terus berjalan dimasa mendatang. Saat ini pemerintah mulai mengatur dan menghimbau masyarakat untuk mulai melakukan adaptasi kebiasaan baru (New Normal) dalam kehidupan sehari-hari dengan tetap menjalankan protokol kesehatan termasuk dibidang transportasi.

alasan dilakukannya perubahan Peraturan Menteri | sumber : Kama Digital 


Dibidang transportasi melalui Kementrian Perhubungan pemerintah kembali mengeluarkan aturan pengendalian transportasi di masa adaptasi kebiasaan baru (New Normal) dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan RI no 41/2020, Surat Edaran no 11,12,13 dan 14. Aturan ini dibuat agar masyarakat dan petugas transportasi tetap dapat produktif tapi tetap aman dari penularan Covid-19 dengan mengutamakan jaga jarak dan protokol kesehatan yang ketat, termasuk menggunakan masker, cuci tangan dan pembersihan sarana dan prasarana transportasi.

Peraturan ini pun mengatur batas kapasitas penumpang kendaraan umum di adaptasi kebiasaan baru (New Normal). Aturan ini mengatur kapasitas sesuai status zona setiap daerah seperti pada table dibawah ini.

Tabel Batas Kapasitas Penumpang Kendaraan  Umum berdasarkan Permenhub 41/2020 | sumber : Kama Digital

Selain membuat aturan pemerintah juga memberikan himbauan perilaku bertransportasi umum kepada pengguna, diantaranya;
  • Tidak bepergian jika merasa dalam kondisi yang tidak sehat.
  • Menggunakan masker.
  • Menjaga jarak.
  • Menggunakan transaksi non tunai.
  • Menerapkan etika batuk dan bersin.
  • Tidak berbicara di dalam kendaraan umum.
  • Menjaga kebersihan diri.
  • Membawa perlengkapan pribadi sendiri.

 
kebiasan pribadi di dalam kendaraan umum | sumber : Kama Digital


Harapan terhadap sektor transportasi dan masukan bagi Pemerintah terutama Kementerian Perhubungan setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal)

Kita tidak pernah membayangkan hidup ditengah pandemi Covid-19 seperti ini. Tapi, jika dicermati kembali situasi ini membuat semua pihak belajar bagaimana hidup dalam kondisi yang tidak normal seperti saat ini. Transportasi umum sebagai alat transportasi massa yang paling efektif dituntut menjadi sarana yang aman bagi penggunanya. Kita sebagai pengguna berharap untuk dapat merasa aman dan bebas dari rasa takut tertular virus Covid-19 ataupun resiko lain dimasa mendatang.

perbedaan pola transportasi umum dulu & sekarang | sumber : Kama Digital



Pandemi Covid-19 memberikan pelajaran yang baik dan wajib diteruskan dimasa mendatang bagi pengguna, petugas maupun pengelola transportasi umum terlebih lagi memberikan pelajaran kepada pemerintah dalam menyikapi situasi tanggap darurat.

kebiasaan baik yang dapat dipelajari | sumber : Kama Digital

Untuk pemerintah terutama Kementrian Perhubungan dimasa mendatang hendaknya dapat lebih siap dalam menangani situasi tanggap darurat seperti ini melalui aturan dan strategi yang lebih jelas dan bersinergi kepada semua pihak terkait. Sehingga jika terjadi situasi darurat seperti ini lagi tidak terjadi kekacauan dan kepanikan di masyarakat serta tidak terjadi penumpukan di halte, stasiun ataupun terminal.


0 Response to "Harapan Terhadap Sektor Transportasi Setelah Adaptasi Kebiasaan Baru (New Normal)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel