ECONUSA MENGAJAK KITA MENGENAL PAPUA LEBIH DEKAT





Papua, wilayah paling timur Negara Kesatuan Republik Indonesia yang memiliki potensi kekayaan dan keberagaman sumber daya alam yang sangat bernilai. Menyebut tanah Papua membawa kita pada gambaran hutan lebat dan suku-suku di pedalaman. Menyebut Papua juga membawa kita pada gambaran keindahan pantai serta gugusan bukit Karts di Raja Ampat. Gambaran tersebut bukan tanpa alasan tapi ya begitulah tanah ini, tanah dengan bentang alam berupa hutan hujan tropis dan pegunungan tinggi menjulang bahkan Jayawijaya puncak tertinggi Indonesia ada di wilayah ini yang dibatasi garis pantai indah di sekeliling wilayah kepulauannya.

Tapi, apa itu saja yang kita ketahui dari Papua ?!. Jujur saja ternyata wawasan BangJu soal tanah Papua juga sangat terbatas. Terbatas hanya pada burung Cendrawasih, Jayawijaya, Raja Ampat, Freeport, Suku Asmat, Suku Dani, Danau Sentani, Sorong dan Jayapura saja (kasihan ya… L). Coba ngacung siapa yang punya wawasan yang sama kaya Bangju?. Tapi ternyata Papua itu tidak hanya itu loh, banyak sekali wilayah, potensi dan keberagaman yang dimiliki. BangJu juga baru tahu dari acara Outlook Econusa 2020.

Apa sih Outlook Econusa 2020 itu ?

Pada tanggal 28 Januari 2020 BangJu dan beberapa teman blogger menghadiri sebuah acara dengan tajuk Menguatkan Masyarakat, Meneguhkan Hutan Hujan Timur Indonesia yang diselenggarakan di The Icon Hotel Morrisey Jakarta oleh Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan atau Yayasan Econusa. Acara ini pada dasarnya bertujuan untuk memberitakan tentang bagaimana Yayasan ini berkontribusi bagi Papua khususnya dan Indonesia Timur pada umumnya. Acara ini sangat bernuansa Papua karena selain diisi oleh narasumber asal Papua juga dimoderatori oleh Puteri Indonesia Papua 2018 Yuli Fotanaba.

narasumber & moderator acara | sumber : Econusa

Yayasan Econusa adalah sebuah yayasan yang didirikan pada tahun 2017 atas prakarsa seorang tokoh penggiat lingkungan yang lahir dan besar di Papua yakni Bustar Maitar. Ini juga yang menjadi alasan mengapa yayasan ini menjadikan Indonesia Timur sebagai pusat kegiatan yang meliputi Papua, Papua Barat, Maluku dan Maluku Utara. Selain itu pemilihan kawasan ini juga dikarenakan tutupan hutannya yang masih terjaga utuh. Total tutupan hutan di keempat provinsi ini seluas 36.660.805,42 hektare atau 44% dari total tutupan hutan di Indonesia seluas 88.458.514,08 hektare.


“Yayasan Econusa  melihat potensi besar hutan di Tanah Papua dan Maluku sebagai garda terakhir hutan di Indonesia bahkan dunia. Selain itu tanah Papua dan Maluku merupakan pusat masyarakat adat terbesar di Indonesia dimana segala budaya dan praktik-praktik baik menjaga hutan lahir” ujar Bustar Maitar.

Melalui acara ini Yayasan Econusa ingin memberikan gambaran kondisi alam dan bagaimana masyarakat Papua serta Maluku hidup dengan memanfaatkan alam tanpa merusaknya sehingga dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia bahkan dunia.

Dalam acara ini kita akan dibawa menjelajahi sisi lain Tanah Papua yang jarang sekali menjadi sorotan. Penjelajahan Papua ini ditampilkan melalui pameran foto, video kehidupan masyarakat pesisir dan Suku Kombai di pedalaman Papua serta pemaparan dari beberapa pihak terkait.


Suku Kombai

Bukan hanya suku Asmat dan suku Dani saja yang mendiami Papua ada banyak lagi suku yang hidup di dalam hutan Papua. Suku Kombai di Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel salah satunya yang memiliki cara bagaimana hidup selaras dengan alam yang unik. Suku Kombai membangun rumah diatas pohon bahkan hingga diketinggian 50 meter yang bertujuan untuk menghindari serangan hewan buas. Cara mereka berburu pun menggunakan peralatan sederhana menggunakan ranting, daun dan rotan yang semuanya berasal dari hutan.
 

Ada lagi tradisi unik yang dimiliki suku Kombai yakni Pesta Ulat Sagu, pada pesta ini ulat sagu menjadi bahan utamanya. Ulat sagu menjadi tembok kokoh dalam memanfaatkan sisa-sisa hutan. Pohon sagu menjadi symbol keutuhan budaya masyarakat suku Kombai dan Papua karena pemanfaatannya mulai dari akar, batang, daun hingga ulat-ulat yang muncul setelah pemanfaatan pohon ini. Alih fungsi hutan sagu menjadi lahan perkebunan berpotensi melenyapkan salah satu masyarakat adat dan kebudayaanya.




Potensi Sumber Daya Alam Kabupaten Kaimana

Kalau biasanya pemaparan oleh narasumber terasa membosankan, tapi kali ini malah membuat antusias. Bagaimana tidak, pemaparan potensi sumber daya alam kabupaten Kaimana dipaparkan langsung oleh Bupati Kab. Kaimana Bapak Matias Mairuma sendiri. Beliau memaparkan betapa kabupaten ini memiliki potensi yang sangat kaya.

Teluk Triton | sumber : Econusa/ Matias Mairuma

Letak kabupaten ini di daerah pesisir barat Papua membuat laut menjadi salah satu kekayaan potensi. Potensi bentang alam seperti Teluk Triton, Kolam Sisir dan Pulau Venu menjadi potensi alam yang dapat dikembangkan menjadi destinasi andala kabupaten ini. Kawasan pesisirnya memiliki potensi berupa  Mangrove, Padang lamun dan Coral yang berkontribusi menyerap CO2 (Blue Carbon) dengan luas 514.285 hektare yang juga menjadi habitat bagi ikan-ikan serta kepiting yang menjadi sumber kehidupan masyarakatnya.
Kepiting di kawasan Mangrove Kaimana, sebesar ini Rp.2000,- saja | sumber : Econusa/ Matias Mairuma

Yang tak kalah menarik adalah potensi bawah laut yang dimiliki kabupaten ini. Disini banyak ditemukan ikan spesies endemic papua serta soft coral yang dapat memancarkan cahaya di malam hari. Satu keunikan lainnya ada pada keberadaan Hiu Paus di perairan Kaimana, karena biasanya hiu ini memiliki mobilitas tinggi yang selalu berpindah-pindah tempat dalam waktu yang singkat tapi di perairan Kaimana ada 15 ekor Hiu Paus yang menetap.

potensi bawah laut Kaimana | sumber : Econusa/ Matias Mairuma



Ekspedisi Mangrove Papua Barat

Sejalan dengan upaya konservasi, Yayasan Econusa diakhir tahun 2019 mengadakan Ekspedisi Mangrove di sepanjang pesisir selatan Papua Barat dengan tujuan untuk mengidentifikasi kawasan mangrove dan potensi social ekonominya bagi masyarakat lokal serta survey vegetasi dan keanekaragaman hayati yang ada dikawasan tersebut. Pada ekspedisi ini Yayasan Econusa bekerja sama dengan Peneliti sekaligus Dosen Universitas Papua, Jimmy Wanma.


Ekspedisi ini menempuh jarak lebih dari 1000 km dengan total luas area mangrove yang diteliti sebanyak 419,8 ha di 9 kampung, 5 Kabupaten ( Sorong, Sorong Selatan, Fak-fak, Teluk Bintuni dan Kaimana), 18 orang dari Yayasan Econusa, Balitbangda, Univ. Papua dan WRI selama 15 hari penelusuran.

jenis Mangrove yang belum teridentivikasi | sumber : Econusa/ Jimmy Wanma

Ekspedisi Mangrove ini menghasilkan beberapa kesimpulan, yakni :
1.    Mangrove Pesisir Selatan Papua Barat secara umum terdapat dua tipe (Air Kabur & Air Jernih)
2.    Terdapat 39 jenis dan 19 family, (19 jenis mangrove utama dan 20 jenis mangrove asosiasi)
3.    Terdapat 7 jenis mangrove yang memiliki jumlah paling sedikit/ langka di alam yang termasuk dalam kategori Citiec LC & Decreasing (perlu mendapat perhatian & konservasi).

Kontribusi Yayasan Econusa
Melihat potensi kekayaan alam seperti yang sudah dijelaskan diatas dan potensi lain yang dimiliki Papua kita harus siap dengan sebuah kenyataan bahwa pada masa mendatang hutan-hutan Papua menghadapi ancaman perubahan konversi hutan menjadi lahan perkebunan. Konversi lahan ini dapat merusak ekosistem hutan sebagai rumah keanekaragaman hayati dan memutus kebudayaan sekitar.

Untuk menjaga kelangsungan hutan Yayasan Econusa selama kurun waktu dua tahun mempromosikan pembelajaran dan praktek-praktek terbaik yang dilakukan LSM lokal dan masyarakat ke tingkat nasional dan internasional tentang pengelolaan sumber daya alam. Selain itu Yayasan Econusa juga mengorganisir kaum muda khususnya di kawasan perkotaan untuk mendukung gerakan kedaulatan pengolahan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan melalui Sekolah Eco Diplomacy (SED). SED didirikan sejak tahun 2018 dan telah memiliki 47 alumni yang diberi pelatihan serta pengenalan arti hutan bagi manusia.
Percayakan kalau Papua itu kaya yang harus kita jaga. Dari acara ini BangJu langsung punya keinginan lagi untuk bisa menginjakan kaki atau bahkan ikut berkontribusi untuk pelestarian lingkungan Papua. Jadi kedepannya gak cuma jalan-jalan aja, yuk kita berkontribusi untuk Indonesia !!!






0 Response to "ECONUSA MENGAJAK KITA MENGENAL PAPUA LEBIH DEKAT"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel